Wendit yang Eksotis dan Menarik yuk Kesini

Wendit Water Park Malang adalah salah satu Tempat wisata Malang yang sayang untuk Anda lewatkan. Tempat rekreasi ini tergolong tempat rekreasi yang sudah lama sekali ada, hanya saja sempat terlupakan karena saat itu makin banyak pesaing. Seiring berjalannya waktu renovasipun di lakukan. Dulu tempat ini bernama Pemandian Wendit sekarang bernama Wendit Water Park Malang, bagi Anda yang sudah lama tidak mengunjungi tempat ini dalam jangka waktu yang lama akan terkejut dengan penampilan baru dari tempat wisata Malang ini. Menurut kepercayaan masyarakat, air di wendit ini berkhasiat sama dengan air Widodaren ( sumber air di Bromo yang merembes ke arah Wendit ), khasiat yang di percaya dapat membuat orang yang mandi di kolam Wendit bisa menjadi awet muda.

Berjarak sekitar kurang lebih 8 Km dari Pusat kota Malang dengan jarak tempuh 15 – 20 menit dan berada di pinggir jalan besar akan memudahkan Anda untuk mendapati tempat wisata ini.Dari ruas jalan akan terlihat tulisan “ Wisata Wendit “. Tempat wisata ini bertempat di desa Mangliawan kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Untuk datang ke Wendit menggunakan angkutan umum Anda bisa naik dari Terminal Arjosari dan naik ke angkutan AT ( Arjosari Tumpang ) dengan mobil warna putih yang berstrip warna hijau.

Wendit dulunya hanya sebuah kolam pemandian yang tradisional berkonsep alam yang berada di perbukitan yang di tumbuhi oleh pohon jati. Taman wisata ini menjadi obyek wisata sejak tahun 1980 an. Sebelum menjadi obyek wisata ternyata wendit adalah basis pertahanan para pejuang, pada tahun 1960 sampai 1970 wendit di kelola oleh para veteran perang. Pada awal tahun 1980 tempat ini di ambil alih oleh pemerintah tk.II kabupaten Malang sebagai objek wisata dan di kelola oleh dinas pekerjaan umum dan di jadikan sector pariwisata dan penghasilan bagi warga di sekitarnya.

Pada tahun 2006 wendit di pugar untuk di lakukan renovasi besar besaran, sebelum di ambil alih oleh dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Malang wendit di kelola oleh perusahaan daerah PT. Jaya jasa. Wendit di buka kembali pada tahun 2008 tepatnya tanggal 11 Mei sebagai awal di resmikannya Wendit Water Park Malang.

Setelah renovasi, wahana di Wendit Water Park Malang pun semakin beragam. Di antaranya ada kolam arus, waterboom, sepeda air, kolam renang, mandi bola, flying fox, restaurant apung, dll. Untuk wahana permainan di Wendit ada bombom car, worm coaster, outbond, spa, food center, cootage atau tempat peristirahatan sejumlah toko oleh – oleh. Fasilitas yang tersedia berupa kamar mandi, mushola, lahan parkir yang luas dan tempat penitipan barang. Yang masih ada di wendit adalah adanya populasi monyet yang masih menjadi penghuni setia kawasan wendit, tapi jangan takut karena mereka merupakan hewan jinak yang ada di wendit.

Di sana juga ada sendang widodaren yang di percaya dapat menyembuhkan penyakit, caranya bisa dengan di minum, mandi atau cuci muka. Terletak satu lokasi dengan makam mbah Kabul, mbah Kabul sendiri adalah sesepuh yang babad alas dan juga membangun tempat ini.

Yuk Berkunjung ke Candi Badut

Candi Badhut ditemukan oleh pakar arkeologi di tahun 1923. Candi yang juga disebut Candi Liswa ini berlokasi kurang lebih 5 km dari kota Malang, tepatnya di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Badhut diduga diperkirakan dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Airlangga, yaitu masa dimulainya pembangunan candi-candi lain di Jawa Timur, dan diduga merupakan candi tertua di Jawa Timur.

Sebagian ahli purbakala berpendapat bahwa Candi Badhut dibangun atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Dalam Prasasti Dinoyo (tahun 682 Caka atau 760 M), yang ditemukan di Desa Merjosari, Malang, dijelaskan bahwa pusat Kerajaan Kanjuruhan adalah di daerah Dinoyo.

Prasasti Dinoyo sendiri saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Tulisan dalam prasasti juga menceritakan tentang masa pemerintahan Raja Dewasimba dan putranya, Sang Liswa, yang merupakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan. Kedua raja tersebut sangat adil dan bijaksana serta dicintai rakyatnya. Konon Sang Liswa yang bergelar Raja Gajayana yang sangat senang melucu (bahasa Jawa: mbadhut) sehingga candi yang dibangun atas perintahnya dinamakan Candi Badhut. Walaupun terdapat dugaan semacam itu, sampai saat ini belum ditemukan bukti kuat keterkaitan Candi Badhut dengan Raja Gajayana.

Selain usianya yang diduga jauh lebih tua, didasarkan pada keterkaitannya dengan Kerajaan Kanjuruhan, terdapat ciri khas lain yang membedakan Candi Badhut dari candi lain di Jawa Timur, yaitu pahatan kalamakara yang menghiasi ambang pintunya. Pada umumnya relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur dibuat lengkap dengan rahang bawah, namun kalamakara yang terdapat di Candi Badhut dibuat tanpa rahang bawah, mirip dengan yang didapati pada candi-candi di Jawa tengah. Tubuh candi Badhut yang tambun juga lebih mirip dengan candi di Jawa Tengah. Candi ini juga memiliki kemiripan dengan Candi Dieng (di Jawa Tengah) dalam hal bentuk serta reliefnya yang simetris. Candi Badhut diyakini sebagai candi Syiwa, walaupun sampai saat ini belum ditemukan arca Agastya di dalamnya.

Bangunan yang terbuat dari batu andesit ini berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Batu ini sangat sederhana, tanpa hiasan relief, membentuk selasar selebar sekitar 1 m di sekeliling tubuh candi. Di sisi kanan bagian depan batur terdapat pahatan tulisan Jawa (hanacaraka) yang tidak jelas waktu pembuatannya.

Tangga menuju selasar di kaki candi terletak di sisi barat, tepat di hadapan pintu masuk ke ruang utama di tubuh candi. Pada bagian luar dinding pengapit tangga terdapat ukiran yang sudah tidak utuh lagi, namun masih terlihat adanya pola sulur-sulur yang mengelilingi sosok orang yang sedang meniup seruling. Jalan masuk ke garba grha (ruang dalam tubuh candi) dilengkapi dengan bilik penampil sepanjang sekitar 1,5 m. Pintu masuk cukup lebar dengan hiasan kalamakara di atas ambang pintu.

Dalam tubuh candi terdapat ruangan seluas sekitar 5,53 x 3,67 meter2. Di tengah ruangan tersebut terdapat lingga dan yoni, yang merupakan lambang kesuburan bagi. Pada dinding di sekeliling ruangan terdapat relung-relung kecil yang tampaknya semula berisi arca.

Dinding candi dihiasi dengan relief burung berkepala manusia dan peniup seruling. Di keempat sisi tubuh candi juga terdapat relung-relung berhiaskan bunga dan burung berkepala manusia.Di dinding luar sisi utara tubuh candi terdapat arca Durga Mahisasuramardini yang tampak sudah rusak.

Di sisi selatan seharusnya terdapat arca Syiwa Guru dan di sisi timur seharusnya terdapat arca Ganesha. Keduanya sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Candi ini pernah dipugar di tahun 1925 – 1926, akan tetapi banyak bagian yang sudah hilang atau belum dapat dikembalikan ke bentuk asalnya. Atap bangunan utama, misalnya, saat ini sudah tidak ada di tempatnya. Hanya pelipit di sepanjang tepi atas dinding yang masih tersisa.

Di bagian barat pelataran, yaitu di sisi kiri dan kanan halaman depan bangunan candi yang yang sudah dipugar, terdapat fondasi bangunan lain yang masih belum dipugar. Masih banyak onggokan batu di sekeliling pelataran candi yang belum dapat di kembalikan ke tempatnya semula.