Museum Brawijaya Malang, Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Bangsa

Liburan di Indonesia seharusnya diisi dengan promosi sejarah melalui wisata museum-museum di berbagai kota. Museum Brawijaya Malang adalah salah satu destinasi wisata sejarah yang recommended untuk dikunjungi.

Sayangnya selama ini banyak orang menganggap museum identik dengan tempat angker. Maka tak heran jika di Indonesia, wisata sejarah masih menjadi hal langka. Berbeda dengan di luar negeri, yang menjadikan museum sebuah tempat wisata edukasi yang nyaman dan bikin betah.

Sejarah Museum Brawijaya Malang

Museum Brawijaya tercetus dari ide seorang Panglima Kodam Brawijaya pada tahun 1959- 1962 yaitu Brigadir Jendral TNI (Purn.) Soerachman. Dengan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah Kotamadya Malang, Museum Brawijaya direalisasikan pada tahun 1967-1968 di atas lahan seluas 10.500 m2.

Dukungan finansial juga datang dari Sdr. Martha (Hotel Tretes Pandaan). Sementara arsitektur museumnya adalah Kapten Czi Ir. Soemadi. Banyak manfaat dan peranan dari Museum Brawijaya, antara lain sebagai: edukasi kemiliteran, edukasi sejarah, tempat wisata, tempat penelitian ilmiah, pembinaan mental perjuangan, pembinaan rasa nasionalisme, dan lain-lain.

Berjalan-jalan di dalam Saksi Bisu Perjuangan Bangsa

Museum Brawijaya terletak di Jl. Ijen no. 24 A, Kota Malang. Ketika smart readers melewatinya, maka akan terlihat di halaman depan museum, sebuah taman yang bernama Agne Yastra Loka. Terdapat sebuah tank tempur yang dilengkapi senjata anti udara di dalam taman tersebut.

Saat memasuki museum, kita akan melalui ruang lobi yang di dalamnya terdapat dua perangkat lambang-lambang Kodam di Indonesia dan dua relief. Relief di Utara menunjukkan daerah yang pernah dijajaki oleh pasukan Brawijaya ketika memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu relief di Selatan menunjukkan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan pahatan Raden Wijaya (Harihara).

Di lokasi ini juga wisatawan dapat melihat beberapa koleksi museum yang bersejarah. Salah satu di antaranya merupakan sebuah gerbong tak berpintu. Konon dahulu menyimpan sebuah cerita kelam sejarah.

Di mana gerbong kereta tersebut pernah mengangkut penumpang yaitu puluhan prajurit pejuang. Namun naasnya dalam perjalanan mencekam, sebagian besar prajurit mati lemas karena tak ada ventilasi atau lubang saluran udara.

Banyak pengunjung museum yang datang mengenal gerbong ini dengan sebutan gerbong maut. Tak terlalu jauh dari gerbong itu, kita bisa melihat perahu jukung khas Trimaran. Perahu ini memiliki 3 lambung. Entah sejarah apa yang terkait sebab perahu ini menjadi salah satu dari koleksi museum.

Namun dari salah satu sumber cerita mengatakan, perahu ini dahulu digunakan oleh Letkol Candra Hasan. Perahu ini berguna sebagai alat transportasi bagi para prajuritnya yang sedang menyerang pasukan Belanda secara gerilya.

Memasuki Museum Brawijaya ditandai dengan sebuah patung dari Jendral Besar Soedirman. Di sini Anda dapat melihat biografi singkat dari pahlawan legendaris tersebut. Suasana unik akan terasa saat memasuki museum.

Pengunjung akan melewati jembatan dari kanal buatan yang cukup lebar, mungkin 3 hingga 4 meter. Begitu memasuki bagian dalam, wisatawan dapat melihat dan mempelajari sejarah dari koleksi- koleksi yang dipamerkan. Di antaranya adalah beragam senjata kuno yang terpajang pada sebuah lemari kaca yang bersekat-sekat.

Pada lokasi tersebut dijelaskan jenis-jenis senjata kuno hingga modern, bahkan senjata-senjata dengan keunikan tersendiri dengan bentuknya yang aneh. Mungkin malah belum pernah kita lihat sebelumnya.

Suguhan senjata lainnya adalah beragam senjata laras panjang dan berbagai pucuk meriam kecil hingga meriam besar. Terpampang juga koleksi-koleksi dari atribut perlengkapan baju militer hingga parasut yang digunakan ketika operasi militer di medan pertempuran.

Pemandangan menarik lainnya berupa mobil kuno dan antik yang terpajang menyerupai mobil Volkswagen (VW). Mobil ini adalah kendaraan yang dulunya digunakan oleh Panglima Kolonel Sungkono. Tercatat mobil ini memiliki tahun produksi sekitar 1941 dari pabrik Desoto, Amerika Serikat.

Pada pigura banyak menceritakan jendral-jendral besar di Indonesia yang sangat dikenal hingga saat ini, misalnya Panglima Besar Soedirman dan Letnan Jendral Ahmad Yani. Smart readers pun dapat melihat dan memahami penggalan-penggalan kalimat heroik yang pernah terlontar dari bibir mereka.

Tak tertinggal alat musik yang biasa dipakai meramaikan parade-parade militer. Dari barisan alat terompet kecil hingga besar yang terpajang di bagian dalam lemari di atas dinding.

Koleksi-koleksi Museum Brawijaya Malang terbilang cukup banyak sehingga begitu memadati ruang pameran. Maka tak heran kalau pembaca budiman berkunjung ke sana akan merasa ruangan tersebut kurang luas.

Sayangnya, selama beberapa tahun terakhir, Museum Brawijaya sedang kehilangan jumlah pengunjungnya. Ditambah pandemi menghantam pula. Semakin surut saja warga Malang yang berkunjung, termasuk pada hari-hari libur maupun akhir pekan.

Untuk jadwal kunjungan sendiri, tak jauh berbeda dengan kebanyakan museum lainnya. Museum Brawijaya buka setiap hari kecuali hari Senin, dari jam 8.30 – 15.00 WIB.

Mari kita galakkan wisata sejarah dengan memulainya ke Museum Brawijaya Malang yuk! Ingat kan kata Bung Karno? Jas Merah – jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Leave a Comment