Wayang Topeng Malangan, Kebudayaan Kuno yang Tetap Eksis

Wayang Topeng Malangan adalah salah satu kebudayaan kuno yang masih eksis hingga saat ini. Walaupun bisa dibilang kurang dikenal luas oleh masyarakat, tetapi sejarah mengenai salah satu bentuk tari topeng di Indonesia ini ternyata sangat panjang.

Malang adalah salah satu kota di Indonesia yang semakin meningkat kunjungan dari wisatawan lokal. Sayangnya di tengah pamornya yang naik, banyak tradisi dan budaya peninggalan nenek moyang mulai ditinggalkan.

Buat para smart readers inimalang.com, jika suatu hari berkesempatan untuk menginjakkan kaki di bumi Malang, mimin sarankan agar tidak hanya mengunjungi destinasi wisata popular seperti Kota Malam Malang, Kota Batu dan lainnya. Coba juga deh cari tahu tentang budaya asli Malang, salah satunya tari topeng Malangan ini.

Jangan sampai lo tradisi peninggalan nenek moyang ini justru banyak diminati oleh para wisatawan asing dibandingkan dengan wisatawan domestik. Mengagumi budaya luar sah-sah saja, tapi jangan sampai melupakan tradisi dan budaya dalam negeri.

Sejarah Wayang Topeng Malangan

Menurut penelusuran mimin, ternyata kesenian Wayang Topeng Malangan ini sudah ditemukan kurang lebih sejak abad 8 Masehi. Saat itu sebagian besar Jawa Kuno masih memeluk agama Hindu, bahkan bisa jadi masih di era pra-Hindu.

Saat itu topeng tidak hanya dikenal sebagai budaya atau sarana pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana peribadatan atau ritual religi. Adapun dalam pementasannya akan ditampilkan tari-tarian dan drama di mana para pemerannya menggunakan topeng.

Topeng ini adalah alat untuk memanggil roh nenek moyang yang akan masuk ke dalam tubuh si penari. Kedatangan roh para nenek moyang diyakini akan melakukan perbuatan baik dan menerima penghormatan dari keluarganya saat ini.

Bukti dari budaya ini terwujud dalam relief beberapa candi yang ada di Malang. Dengan berubahnya zaman, salah satunya karena Islam masuk ke Indonesia dan menjamurnya kerajaan Islam di Malang, kesenian ini pun mulai berubah konsep dan kultur.

Terlebih karena kurangnya sumber literasi atas kesenian ini, perlahan-lahan Wayang Topeng Malangan pun menghilang ditelan zaman.

Yuk Lestarikan Tari Topeng Khas Malang Ini!

Di tengah kurang mendukungnya pemerintah dan masyarakat dalam geliat pertumbuhan nguri-uri tradisi lokal, mari kita ucapkan terima kasih kepada para budayawan, padepokan, dan komunitas seni di Malang Raya yang masih berusaha menghidupkan tari topeng khas Malang ini.

Perjuangan mereka untuk terus mempertahankan, mengembangkan, dan mewariskannya kepada masyarakat masih mau peduli kepada budaya khas Malang patut diacungi jempol. Atas usaha mereka, terlihat ada beberapa wilayah yang masih aktif untuk mempertunjukkan kesenian Wayang Topeng Malangan kepada dunia antara lain:

  • Bengkung Selatan,
  • Kedungmonggo,
  • Tengger Ngadas,
  • Tumpang, dll.

Uniknya lagi, penampilan para penari masih menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno). Tentunya akan menjadi sebuah pertunjukan yang sayang untuk dilewatkan to, smart readers?

Adapun urutan dari pertunjukan Wayang Topeng Malangan itu sendiri antara lain:

  • Gending Giro atau Nggiro
  • Pembuka dan sinopsis
  • Pembacaan mantra-mantra malang
  • Acara inti berupa tarian topeng selatan
  • Penutupan

Dalam setiap pementasan tari topeng Malang, ada 6 karakter utama. Karakter-karakter tersebut memiliki nama Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekartaji, Gunung Sari, Dewi Ragil Kuning, Klana Sewandana, dan Bapang.

Berbeda dengan topeng tradisi lainnya di Indonesia, topeng Malang punya ragam corak warna yang bervariasi. Warna-warna yang biasa ditemukan yaitu merah, putih, kuning, hijau, dan hitam.

Keberagaman warna pada topeng Malangan ternyata diartikan sebagai sifat manusia yang beraneka macam. Ada sifat baik, buruk, dan juga jenaka. Makanya apapun bentuk pementasannya, karakter di dalam tari topeng Malangan selalu terdiri dari 4 kelompok utama, yaitu panji, antagonis, abdi alias pembantu, dan binatang.

Hmm, info budaya yang sangat menarik kan? Jadi, pastikan ketika pembaca yang budiman berwisata ke Malang, jangan lupa untuk mencari tempat pementasan Wayang Topeng Malangan. Saksikan bersama seluruh keluarga dan jadilah bagian pelestari tradisi.

Jika tidak memungkinkan menikmati pertunjukannya, setidaknya belilah koleksi topeng dari kesenian Wayang Topeng Malangan. Cara sederhana yang smart readers lakukan ini bisa mendukung geliat tradisi di bumi Malang tercinta.

Leave a Comment